Dosen UGM Ciptakan Sipendil, Sistem Peringatan Dini Longsor Berdasar Ambang Batas Hujan

Dosen Departemen Geografi Lingkungan Nugroho Christanto mempresentasikan cara kerja Sipendil di Ruang Rapat Humas UGM, Jumat (18/5/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
18 Mei 2018 17:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Tekno Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN - Peneliti Fakultas Geografi UGM mengembangkan sistem peringatan dini (EWS) bencana tanah longsor sederhana dan mudah dioperasikan yang dinamai Sistem Peringatan Dini Longsor (Sependil). Sipendil merupakan peringatan sistem yang bekerja berdasarkan pada ambang batas hujan.

Dosen Departemen Geografi Lingkungan Nugroho Christanto yang mengembangkan Sipendil mengatakan cara kerja Sipendil cukup sederhana yaitu peringatan dini tanah longsor bekerja berdasarkan ambang batas hujan.

"Apabila curah hujan yang tertampung pada tabung penampungan melewati ambang batas, maka alarm atau sirine berbunyi memberikan  peringatan pada warga setempat, bagi yang memiliki gangguan pendengaran, sistem ini dilengkapi dengan lampu LED sebagai peringatan," kata Nugroho dalam Bincang Inovasi UGM di Ruang Rapat Humas UGM, Jumat (18/5/2018).

Nugroho mengatakan alat tersebut dikembangkan menggunakan alat yang mudah diperoleh. Alat tersebut tersusun atas dua komponen utama yaitu pipa penampung air hujan dan box controller.

Pada box controller terdapat sejumlah komponen seperti kran pelimpah, lampu LED, threshold controller dan power. Dalam Sipendil, Nugroho memaparkan, juga diperlukan dukungan data histori kejadian tanah longsor dan data curah hujan yang pernah terjadi.

"Dari data tersebut akan diperoleh korelasi antara curah hujan dan longsor sebagai dasar penentu ambang batas kemampuan tanah untuk merespon curah hujan maksimal," kata Nugroho.

Nugroho menambahkan setiap wilayah akan memiliki ambang batas berbeda-beda sesuai dengan karakteristik lahannya seperti tebal tanah, tipe tanah dan kemiringan.

Nugroho menjelaskan nantinya pengguna harus selalu mengosongkan tabung setiap harinya dari air hujan yang dilakukan dengan membuka kran pelimpah dan mencatat volume air hujan yang tertampung.

Catatan tampungan ini akan bermanfaat sebagai penentu nilai ambang batas hujan untuk menentukan ukuran longsor. Pengaturan nilai ambang batas dilakukan melalui threshold controller yang dapat diset pada ambang batas 55, 60, 65, 70, 75 dan 80 milimeter.

Saat ini Sipendil telah diproduksi secara massal dan dipasarkan dengan harga Rp1,5 juta per unit. Selain itu, Nugroho dan tim juga membuat layanan bagi masyarakat yang butuh bimbingan dalam pengembangan alat ini.

Kepala Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Djati Mardiatno mengatakan semoga nantinya alat tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. "Kita sertakan tutorial juga di Youtube. Ini public domain siapa pun bisa mengembangkannya," kata Djati.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia