Fujifilm XF10, Seringkas Smartphone, Sekuat Mirrorless

Kamera saku digital Fujifilm XF10 - Fujifilm
07 Agustus 2018 09:00 WIB Dhiany Nadya Utami Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Fujifilm memperkenalkan Fujifilm XF10, kamera saku premium penerus seri sebelumnya yakni Fujifilm X70. Berbeda dengan DSLR dan mirrorless, kamera saku ini lebih menyasar para pengguna yang sekadar ingin menggantikan fungsi kamera ponsel mereka, baik untuk berwisata maupun kegiatan sehari-hari.

Secara tampilan, Fujifilm XF10 tak terlalu jauh berbeda dengan kakaknya. Kamera ini terlihat bergaya dengan 2 pilihan warna yakni hitam dan caramel champagne. Bentuknya ramping dan modern, tetapi sekaligus terasa retro dengan aksen kulit di sepertiga bodi depannya.

Dibandingkan dengan X70, Fujifilm XF10 memiliki bobot yang lebih ringan yakni hanya sekitar 280 gram dalam kondisi terpasang baterai dan kartu memori. Sebagai kamera saku, tak mengherankan jika bobot jadi salah satu elemen penting yang diusung Fujifilm XF10.

Pengurangan bobot juga tampaknya jadi salah satu alasan kuat Fujifilm XF10 tak lagi memiliki D-Pad seperti X70. Sebagai gantinya, navigasi dapat dilakukan melalui lapisan sentuh 3 inci yang ada di belakang bodi. Terdapat pula tombol pembesar (zoom), tombol menu, tombol display, serta stik mini untuk membantu pengguna mencari titik fokus saat akan mengambil gambar.

Urusan kemampuan mengambil citra gambar, kamera ini memiliki sensor ukuran APS-C 24,2 megapiksel, 14 kali lebih besar dari sensor pada ponsel pintar standar. Sensor ini disematkan juga di beberapa varian kamera Fujifilm dari lini DSLR dan mirrorless.

Di atas kertas, spesifikasi tersebut memungkinkan Fujifilm XF10 menghasilkan gambar dengan kualitas tinggi, meski hanya mengusung filter warna Bayer dan bukan memakai X-Trans seperti yang digunakan di kamera mid-high Fujifilm lainnya.

Kombinasi dengan lensa tetap (fixed lens) 18,5 milimeter juga menjadikan Fujifilm XF10 ideal untuk mengambil beragam objek termasuk bentang alam (landscape), makanan, dan foto diri. Ada beberapa mode yang ditawarkan misalnya mode Macro untuk foto dengan jarak super dekat hingga 10 cm dari objek dan mode Digital Teleconventer dengan pilihan jarak fokus 28 mm, 35 mm, hingga 50 mm untuk pilihan sudut pandang yang lebih beragam.

Pilih Filter

Apalagi kamera ini dibekali dengan filter-filter baru yang lebih canggih, di antaranya Rich & Fine yang cocok untuk fotografi makanan karena dapat membuat warna lebih cerah dan dalam di bagian tengah gambar dan filter Monochrome untuk hasil foto yang artistik.

Hasil foto menggunakan kamera Fujifilm XF10 dengan filter Rich & Fine dan Monochrome.

Hasil foto menggunakan kamera Fujifilm XF10 dengan filter Rich & Fine dan Monochrome.

Tak ingin ketinggalan dengan tren masa kini, pengguna juga dapat memilih mode bujur sangkar (1:1) untuk tampilan foto ala Instagram. Pilihan aspek ratio lain yang tersedia adalah rasio standar 4:3 dan 16:9.

Selain itu, agar dapat langsung diunggah ke media sosial, terdapat koneksi Bluetooth yang membuat hasil foto dapat langsung ditransfer ke ponsel pintar pengguna dengan mudah. Bagi yang ingin memiliki cetak fisik foto, dapat menghubungkannya dengan printer Fujifilm Instax baik versi mini maupun versi bujur sangkar.

Untuk perekaman video, Fujifilm XF10 menjanjikan kualitas hingga video 4K dan mendukung video kecepatan tinggi sehingga pengguna dapat merekam adegan gerak lambat dengan kekuatan 15 bingkai per detik. Untuk ketahanan daya, baterai NP-95 yang disematkan pada Fujifilm XF10 diklaim dapat bertahan hingga 300 kali jepretan standar.

Secara keseluruhan, Fujifilm XF10 merupakan pilihan yang menarik bagi mereka yang membutuhkan kamera di atas kemampuan kamera ponsel mereka tetapi tak mau pusing dengan setelan-setelan rumit yang ada pada kamera mirrorless atau DSLR. Cocok pula bagi mereka yang ingin berpergian dan butuh kamera kompak nan cantik serta ringan.

Hasil foto menggunakan kamera Fujifilm XF10 dengan filter Sepia dan Velvia.

Namun, dengan harga yang kabarnya mencapai US$500 atau sekitar Rp7 juta rupiah, rasanya menambah bujet sedikit lalu melirik kamera mirrorless atau DSLR, pengguna bisa memiliki kamera dengan kemampuan yang lebih.

Akan tetapi, tetap saja pilihan selalu kembali pada kebutuhan utama pengguna karena mungkin memang beberapa hanya ingin kamera dengan fitur sederhana.

Sumber : Bisnis Indonesia