Harga Ponsel Mulai Terpengaruh Kenaikan Dolar AS

Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
09 Agustus 2018 07:00 WIB Dhiany Nadya Utami Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada harga perangkat telepon seluler (ponsel) pintar. Beberapa vendor mulai menaikkan banderol karena meningkatnya harga komponen.

 Baru-baru ini, Asus menetapkan harga jual baru untuk produk dari dua seri teranyar yang mereka rilis tahun ini. Kenaikannya beragam, mulai dari Rp100.000-Rp300.000 per unit.

 Head of Public Relation Asus Indonesia Muhammad Firman mengatakan pihaknya terpaksa menyesuaikan harga jual karena beban belanja komponen mengalami peningkatan seiring melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

“Hitung-hitungan kami kemarin [saat launching] itu saat dolar Rp13.500, sekarang sudah di angka Rp14.000 sekian, jadi mau enggak mau harus ada kenaikan," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Produk-produk baru yang mengalami kenaikan adalah seri Zenfone Max Pro M1 dan Zenfone 5. Untuk produk lainnya, Firman menyebut tidak akan ada kenaikan karena masih mengikuti skema harga produksi lama.

Sejauh ini, lanjutnya, belum ada dampak yang signifikan terhadap penjualan atas kenaikan harga yang mereka tetapkan karena permintaan atas kedua seri tersebut masih sangat tinggi.

Pada pertengahan Juli 2018, Xiaomi juga menaikkan harga untuk produk Redmi 5A dan Redmi Note 5. Vendor asal Tiongkok itu menyebut kenaikan harga disebabkan oleh nilai tukar yang menyebabkan biaya komponen meningkat.

"Kami akan menyesuaikan harga untuk memastikan kualitas produk tetap menjadi yang utama," demikian tertulis di laman resmi Xiaomi.

Sementara itu, Samsung masih bertahan untuk tidak menaikkan harga jual produk mereka. Menurut Vice President PT Samsung Electronik Indonesia Lee Kang Hyun, alih-alih melakukan penyesuaian harga, mereka berusaha menghemat pengeluaran.

Namun, dia menyatakan untuk produk baru yang akan diluncurkan tidak menutup kemungkinan harganya akan disesuaikan dengan kondisi nilai tukar saat ini, yang berdampak pada biaya produksi.

Berbeda dengan vendor lain, Oppo mengaku tidak memiliki rencana untuk menaikkan harga produk mereka. Alasannya, sejak jauh-jauh hari mereka telah menyiapkan komponen yang diperlukan dalam jumlah besar dengan nilai yang masih mengacu pada kurs lama.

"Jadi ketika dolar AS naik, kami enggak terpengaruh [...] mungkin yang naik memang volume pemesanan part [komponennya] sedikit, makanya berpengaruh," kata PR Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto saat dihubungi melalui pesan pendek.

Sumber : Bisnis Indonesia