Ide Kabin Pesawat Bisa Dilepas Kurang Masuk Akal dan Malah Berbahaya

Ilustrasi Detachable Cabin ala Vladimir Tatarenko. - Potongan Video YouTube Tatarenko
04 November 2018 23:07 WIB Nugroho Nurcahyo Tekno Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Begitu ada insiden pesawat jatuh Lion Air PK-LQP JT610, sejumlah video tentang ide-ide anyar dalam keselamatan penerbangan langsung beredar melalui grup percakapan dan dibagikan melalui medsos. Salah satunya ide gila Vladimir Tatarenko yang sebetulnya sudah menjadi perdebatan sejak akhir 2015 lalu.

Penemu asal Ukraina itu membuat ide gila pesawat dengan kabin penumpang yang dapat dilepas dan memisahkan diri dari pesawat, lalu mendarat aman dengan parasut saat terjadi keadaan darurat di angkasa.

Jatuh dari langit memang menjadi ketakutan terburuk bagi sebagian besar penumpang ketika mereka naik pesawat. Tapi apakah ide Vladimir Tatarenko itu benar-benar menjamin keamanan terbang?

Herve Morvan, Profesor Mekanika Fluida Terapan Fakultas Teknik Universitas Nottingham, Inggris, telah menanggapi ide gila Vladimir Tatarenko ini pada 2016 lalu melalui artikelnya yang diterbitkan di The Independent dan The Conversation selang sebulan setelah video Tatarenko viral.

“Ini mungkin terdengar seperti ide meyakinkan bagi mereka yang beranggapan naik pesawat adalah  cobaan yang mengerikan daripada hal menarik untuk memulai liburan,” tulis Herve Moran dalam naskahnya yang diberi judul Why a Detachable Cabin Probably Wouldn’t Save Your Life in a Plane Crash?

Sebagai seseorang yang sangat tertarik dengan desain dan teknologi pesawat terbang, Herve mengganggap ide itu sebagai hal yang membingungkan. Tidak hanya desain yang ditawarkan Tatarenko itu sangat menguras biaya, tetapi juga tidak mungkin diterapkan untuk menyelamatkan nyawa dalam bencana penerbangan seperti divisualisasikan dalam video Tatarenko.

Dalam video itu, kabin dapat dilepas saat pesawat mengalami kerusakan mesin di langit. “Pertama-tama harus dicatat pesawat jatuh karena masalah ini sangat jarang terjadi. Sistem dan gangguan listrik hanya menyumbang kurang dari 3% dari semua kecelakaan fatal dalam 10 tahun terakhir,” kata Herve.

Dalam banyak insiden buruk penerbangan, jelas Herve, pesawat udara memiliki kerentanan saat lepas landas dan mendarat. Ini karena letak pesawat yang lebih dekat dengan permukaan Bumi. Daratan adalah hambatan terbesar dalam penerbangan. Pada saat lepas landas dan mendarat itulah, pesawat juga masih berada dalam kecepatan rendah sehingga lebih sulit dilakukan manuver.

Menurut statistik yang dirilis Boeing, hampir tiga perempat kematian akibat kecelakaan pesawat terbang antara 2005 dan 2014 terjadi selama fase-fase tersebut. Padahal insiden pada fase penerbangan inilah yang paling tepat untuk penerapan ide penyelamatan penumpang ala Tatarenko.

Namun demikian, statistik mencatat 1.000 kematian dalam sepuluh tahun terakhir karena kecelakaan yang terjadi selama fase jelajah terbang. Di fase inilah kabin yang bisa dilepas mungkin memiliki fungsi penyelamat yang sangat besar. Namun pada fase jelajah ini, Herve juga menilai ide Tatarenko sulit diterapkan dan malah bisa membahayakan penumpang.

Sebagian besar kecelakaan pesawat, atau sebanyak 80%, disebabkan human error (kesalahan manusia) yakni dengan hilangnya kendali pesawat dan terbang ke arah yang keliru. “Kabin yang bisa dilepas tidak mungkin diterapkan dengan aman jika pilot kehilangan kendali atas pesawatnya,” kata pria yang juga menjadi Direktur Institut Teknologi Aerospace di Inggris itu.

Bahkan dalam kasus di mana pilot bisa merespons kerusakan mesin dengan tenang dan cepat, bisa jadi ide Tatarenko tetap sulit diterapkan dalam kondisi riil.

“Ambil contoh penerbangan US Airways 1549, pilot Chesley B Sullenberger berhasil mendaratkan pesawat di sungai Hudson di New York setelah kedua mesinnya mati tertabrak burung sewaktu lepas landas,” kata dia.

Walau produsen pesawat tidak mungkin mengantisipasi semua skenario kecelakaan, setiap mesin pesawat diuji dan dirancang untuk tahan terhadap tabrakan burung. Pesawat juga dirancang tetap bisa terbang hanya dengan satu mesin.  Namun dalam kasus US Airways, sang kapten nyatanya kehilangan semua mesinnya sehingga tidak bisa melakukan pendaratan darurat di landasan.

“Apa yang ditawarkan kabin yang bisa dilepas dalam  kasus itu? Pada ketinggian rendah, tidak mungkin itu dilakukan. Lalu, bagaimana jika kabin itu mendarat di tengah kota?” ujar Herve.

Secara teknis, konsep Tatarenko juga bakal menemui kerumitan untuk membangun sistem keamanan seperti itu. “Bagaimana mekanisme dalam  merangkai kabin yang aman, tapi tetap bisa memungkinkan pelepasan yang cepat dan aman juga. Jikapun secara teknis memungkinkan, tetap akan menambah masalah dalam hal pemeliharaan,” kata Herve.

Selain itu, bakal ada bobot tambahan dalam sistem yang diusulkan. Padahal berat adalah segalanya bagi produsen pesawat. Setiap tambahan bobot kendati hanya beberapa kilogram, membutuhkan lebih banyak tenaga dorong yang artinya lebih boros bahan bakar. Inefisiensi bahan bakar adalah hal yang paling tidak menarik bagi maskapai penerbangan.

Skenario pendaratan kabin lepas ala Vladimir Tatarenko, di tempat mulus dan mudah dalam mengevakuasi. 

Dan yang terpenting, biaya membangun dan menguji pesawat baru, tidak diragukan lagi, bakal menghabiskan dana sangat besar. Maskapai penerbangan telah menghabiskan antara US$100 juta dan US$ 350 juta per pesawat ,di luar biaya pemeliharaan tahunan. Maskapai pastinya akan berpikir ulang untuk mengganti armada lamanya yang masih bisa diandalkan dengan konsep baru yang belum teruji, terutama karena fatalitas perjalanan udara hingga saat ini sangat kecil.

Menurut asosiasi maskapai penerbangan IATA, pada 2014 (tahun yang tragis untuk penerbangan ), dari 3,3 miliar penumpang yang melakukan perjalanan udara, hanya ada total 641 korban jiwa. Ini angka yang menunjukkan tingkat keamanan yang sangat tinggi.

Terlepas dari sisi ekonomi, para mekanik aeronautika juga sudah meragukan ide Tatarenko. Salah satu komentator di halaman YouTube Tatarenko mengatakan, "Seluruh konsep ini justru melemahkan badan pesawat karena sekarang Anda memiliki sendi dan alat untuk menghubungkan badan pesawat. Padahal di pesawat sebelumnya seluruh badan pesawat tersambung tanpa sendi untuk memperkuat badan pesawat."

Ada pula pertanyaan bagaimana jika kabin yang dikeluarkan tidak mendarat di atas lahan datar yang nyaman seperti yang digambarkan dalam video ? Bagaimana jika jatuh di gunung, hutan atau menjatuhi bangunan? Tanpa pilot untuk mengarahkannya, siapa yang akan mengatakan di mana ia akan mendarat?

Terlepas dari segala kontroversi dan kekurangannya, ide Tatarenko sebenarnya juga bukan ide baru. Setelah bencana pesawat ulang-alik Challenger pada 1986, para perancang pada program pesawat ulang-alik Eropa Hermes melihat kemungkinan sistem kabin yang bisa dilepas. Namun mereka lantas menyadari secara teknis ide itu menelan biaya sangat besar. Tak cuma itu, sistem kabin terlontar juga bisa berdampak pada apa saja yang bisa diangkut oleh pesawat ulang-alik nantinya. Sistem itu akhirnya menjadi salah satu dari beberapa hambatan yang fatal dalam merancang Hermes. Pesawat ulang-alik itu bahkan gagal dibangun.

Sumber : Independent.co.uk, CNN International