PENELITIAN MAHASISWA : Kulit Pisang Sebagai Cangkang Kapsul

Ilustrasi buah pisang (Healthmeup.com)
14 Juli 2015 01:20 WIB Redaksi Solopos Tekno Share :

Penelitian mahasiswa UNY terbaru ialah memanfaatkan bahan bekas seperti kulit pisang yang dipergunakan sebagai cangkang kapsul.

Harianjogja.com, SLEMAN - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UGM) memanfaatkan kulit pisang sebagai bahan cangkang kapsul keras pembungkus obat non-gelatin.

"Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa komposisi kulit pisang banyak mengandung air yakni 68,90 persen dan karbohidrat sebesar 18,50 persen serta zat-zat lainnya," kata ketua tim Wulan Sari Ningsih di Yogyakarta, Minggu (12/7/2015).

Menurut dia, kulit pisang mengandung karbohidrat atau hidrat arang berupa amilum atau pati. Selain itu, kulit pisang juga memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein, dan lemak.

"Pembuatan cangkang kapsul obat dari kulit pisang meliputi pembuatan bioplastik dan cangkang," kata mahasiswi FMIPA UNY itu.

Ia mengatakan pembuatan bioplastik dari pati kulit pisang itu dengan cara mencuci bersih kulit pisang kemudian direndam dengan air garam sekitar 12 jam. Selanjutnya dihaluskan dengan blender, yang sebelumnya ditambah air secukupnya.

Kulit pisang yang telah halus disaring untuk diambil airnya yakni sari pati kulit pisang. Setiap 100 ml sari pati kulit pisang itu kemudian dicampur dua sendok teh (sdt) asam cuka dan dua sdt gliserin.

"Setelah itu campuran pati kulit pisang, asam cuka, dan gliserin dipanaskan di atas api, dan setelah sekitar dua menit ditambahkan dua sdt tepung maizena dan dipanaskan kembali selama 15 menit sambil terus diaduk," katanya.

Menurut dia, pembuatan cangkang kapsul kulit pisang yakni bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna dicampurkan ke dalam bioplastik pati kulit pisang sehingga membentuk campuran homogen.

Selanjutnya dicampur, dan bahan dasar tersebut dimasukkan ke dalam pencetak kapsul dilanjutkan dengan memeriksa kelayakan kapsul.

"Metode penelitian yang kami lakukan yakni melakukan uji syarat kapsul cangkang kapsul obat dari kulit pisang dan cangkang kapsul obat dari gelatin meliputi keseragaman kandungan," katanya.

Ia mengatakan pengujian itu dilakukan untuk menentukan kandungan bahan aktif dari kapsul satu dan kapsul lainnya.

Jika bahan aktif tidak kurang dari 50 persen dari bobot tablet atau kapsul dan lebih besar dari 50 mg persyaratannya harus berada pada rentang 85-115 persen dengan simpangan relatif kurang atau sama dengan 6 persen.

Setelah itu dilakukan pengujian untuk mengetahui waktu hancur. Pengujian kehancuran adalah suatu pengujian untuk mengetahui seberapa cepat tablet hancur menjadi agregat atau partikel lebih halus.

"Selanjutnya dilakukan uji disolusi dan uji kadar zat berkhasiat dan memeriksa kelayakan kapsul," katanya.

Anggota tim mahasiswa Fakultas MIPA UNY yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) itu adalah Jati Nuswantari, Isnaini Kholilurrohmi, Chumairoh Luthfi Ratih Mandadara, dan Ratih Sukmaresi.