PENELITIAN MAHASISWA : Ludah Kelelawar Dapat Merusak Sel Darah Merah

bangkai kelelawar yang berjatuhan di langit Australia dalam beberapa hari terakhir ini (Dailymail.co.uk)
20 Juli 2015 02:20 WIB Mediani Dyah Natalia Tekno Share :

Penelitian mahasiswa UNY kali ini mengenai kandugan ludah kelelawar.

Harianjogja.com, SLEMAN-Kelelawar merupakan hewan zoonis yang merupakan pembawa penyakit. Ludahnya mengandung bakteri yang dapat merusak sel darah merah. Dibandingkan kelelawar kelompok megachiroptera, kelompok microchiroptera di kawasan karst Menoreh, Kulonprogo memiliki nilai toksisitas tinggi

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Andi Joko Purnomo, Dixy Dhyanti Prillyaning Saraswati, Cici Nurmaidha Tanjung dan Muhammad Fajar Fathu Rahman melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui kelompok bakteri dan daya hemolitiknya dari sampel saliva kelelawar sebagai indikator tingkat toksisitas saliva di kawasan karst Menoreh. Menurut Ketua Tim, Andi Joko, kelelawar merupakan hewan pembawa penyakit (Reservoir) dan disebut sebagai hewan zoonis yang memiliki penularan penyakit cukup tinggi kemanusia atau hewan vertebra lainnya. Dari alasan itu, penting diketahui ragam kelelawar yang memiliki toksisitas tinggi dan mencegah penularan penyakit.

Pada dasarnya, kata dia, kelelawar memiliki perbedaan dari pola makan dan ekosistem mulut sehingga tingkat toksisitasnya juga berbeda. Tingkat penyebab penyakit dapat dilihat dari kelompok bakteri dan daya hemolitiknya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk melihat toksisitas saliva kelelawar melalui isolasi bakteri adalah dengan isolasidan identifikasi bakteri dari sampel saliva kelelawar megachiroptera dan microchiroptera di kawasan karst menoreh sebagai indikat ortoksisitas saliva.

"Penelitian dilakukan menggunakan kelelawar megachiroptera dengan genus Hipposideros, sedangkan pada kelelawar microchiroptera terdapat dua genus yaitu Miniopterus dan Cynopterus," jelasnya seperti rilis yang Bisnis.com terima.

Hasilnya, pada sampel saliva kelelawar baik megachiroptera dan microchiroptera ditemukan 93 isolat bakteri ditinjau dari karakter morfologi dan fisiologi bakteri. Hasil identifikasi bakteri menunjukkan lima genus bakteri dugaan yaitu Sterptobacillus, Streptococcus, Staphylococcus, Shigelladan Bacillus.

Terdapat perbedaan bakteri dari golongan microchiroptera dan megachiroptra ditinjau dari jumlah ?-hemolisister banyak sebanyak 36 isolat pada sampel microchiroptera. ?-hemolisis artinya adalah bakteri tersebut mampu merusak susunan sel darah merah. Dengan nilai toksisitas isolat pada microchiroptera sebesar 86,4 %. Sehingga kelelawar dari kelompok microchiroptera memiliki nilai toksisitas tinggi pada saliva kelelawar di kawasan kars menoreh.