Menurut Pendiri Telegram, WhatsApp Tidak Akan Pernah Aman

Pendiri Telegram, Pavel Durov. - Fortune
18 Mei 2019 10:47 WIB Chelin Indra Sushmita Tekno Share :

Solopos.com, SOLO – Celah keamanan WhatsApp dimanfaatkan peretas (hacker) untuk meluncurkan software mata-mata yang berpotensi mencuri data tanpa disadari pengguna. Problem ini menunjukkan bahwa aplikasi WhatsApp belum cukup aman untuk melindungi data pengguna yang menuai komentar dari pendiri Telegram, Pavel Durov.

Pendiri perusahaan teknologi aplikasi saingan WhatsApp itu agaknya gatal untuk berkomentar. Pavel Durov mengaku tidak terkejut mendengar kabar heboh tentang WhatsApp. Dia bahkan mengatakan dengan tegas jika WhatsApp tidak akan pernah aman.

Berita ini tidak mengejutkankau. WhatsApp pernah tersandung kasus seperti ini sebelumnya akibat fitur video call. Fitur itu merupakan alat yang dibutuhkan hacker untuk mendapatkan akses data dari smartphone seseorang,” terangnya seperti dilansir The Independent, Jumat (17/5/2019).

Pavel Durov menambahkan, WhatsApp akan terus dibayangi masalah keamanan. Sebab, aplikasi ini tidak punya penyandian khusus saat kali pertama diciptakan.

WhatsApp punya sejarah yang konsisten. Dari tidak adanya penyandian saat diciptakan sampai masalah keamanan yang anehnya cocok untuk tujuan mata-mata. Jika melihat ke belakang, maka tidak ada satu hari pun WhatsApp aman dalam perhalanannya selama 10 tahun,” sambung Pavel Durov.

WhatsApp bukan aplikasi terbuka, sehingga peneliti tidak akan mudah melihat celah keamanannya. Tapi, hal ini memungkinkan pemerintah atau hacker membuat back door di aplikasi yang bisa menerobos segala perlindungan yang dibenamkan.

WhatsApp harus memperbaiki celah keamanan di aplikasinya setiap kali ada masalah. Seluruh masalah keamanan mereka cocok untuk aksi mata-mata. Terlihat dan bekerja seperti back door,” terang Pavel Durov.

Berdasarkan alasan itulahPavel Durov yakin WhatsApp tidak akan aman kecuali mengubah cara kerjanya. “WhatsApp berisiki kehilangan seluruh pasar dan mungkin bentrok dengan otoritas negaranya jika ingin menjadi layanan yang berorientasi privasi. Tapi, sepertinya mereka tidak siap untuk itu,” ujar Pavel Durov.

Sumber : JIBI/Solopos