Botika Targetkan Dongkrak Teknologi AI di Indonesia hingga Akhir 2019

CEO & Founder Botika, Ditto Anindita tengah memaparkan solusi Chatbot untuk Kota Pintar di Hotel Marriott, Yogyakarta (18/7/2019). - Ist
21 Agustus 2019 14:27 WIB MediaDigital Tekno Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sebagai pionir dari perusahaan kecerdasan buatan atau populer disebut sebagai Artificial Intelligence (AI) asal Indonesia, Botika mulai melakukan langkah agresif untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi AI terbaru pada dunia bisnis di Indonesia, hingga akhir tahun 2019.

Bertempat di Hilton Nusa Dua, Bali 21-22 Agustusn 2019, CEO & Founder Botika, Ditto Anindita akan unjuk gigi untuk menjelaskan langkah terbarunya di hadapan lebih dari 1000 peserta dari Indonesia AI Summit (IAI Summit) 2019. Pergerakan teknologi yang semakin cepat, membuat teknologi kecerdasan buatan menjadi kunci dari pertumbuhan produktivitas di berbagai sektor bisnis.

“Botika memiliki visi untuk menciptakan kemudahan bagi manusia untuk bercakap-cakap dengan mesin. Fitur voice dan speech to text, menjadi lompatan selanjutnya dalam pengembangan teknologi chatbot kami dalam tahun ini,” jelas Ditto terkait rencana pengembangan teknologi kecerdasan buatan dari Botika.

“Tak hanya itu, bagaimana mendesain chatbot agar lebih efektif, juga perlu menjadi perhatian. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa sih sebenarnya kunci dari desain chatbot yang baik,” tambahnya.

Tak hanya dilengkapi dengan kemampuan kecerdasan buatan (AI), Machine Learning dan NLP Bahasa Indonesia, namun banyak faktor yang membuat chatbot menjadi luwes dan mampu bercakap-cakap layaknya manusia. “Tak hanya itu, bagaimana mendesain chatbot agar lebih efektif, juga perlu menjadi perhatian. Tidak banyak orang yang mengetahui, apa sih sebenarnya kunci dari desain chatbot yang baik,” kata dia.

Tak hanya dilengkapi dengan kemampuan kecerdasan buatan (AI), Machine Learning dan NLP Bahasa Indonesia, namun banyak faktor yang membuat chatbot menjadi luwes dan mampu bercakap-cakap layaknya manusia. Berbagai solusi Botika, hingga kini telah diaplikasikan untuk beragam sektor bisnis seperti consumer goods, telekomunikasi, transportasi hingga chatbot event dan promosi.

Tahun ini, bahkan Botika telah merambah bidang chatbot yang terspesialisasi kepada layanan kesehatan, dengan sub produk Medis.AI yang mana kedepannya akan memudahkan sistem manajemen dari rumah-rumah sakit di Indonesia.

Selain Medis, AI, beragam produk dari pengembangan chatbot dan teknologi kecerdasan buatan dari Botika juga menjadi fokus dari Botika. Seperti aplikasi chatbot untuk Online Shop yang telah hadir di Google Playstore, yakni Chatbotika. Lalu solusi integrasi berbagai media sosial seperti OmniBot, hingga smart speaker yang bisa berbahasa Indonesia, yaitu Widya Wicara.

Botika juga telah melakukan ekspansi teknologi kecerdasan buatan untuk program Kota Pintar (Smart City), dengan kehadiran sub produknya yakni Pulse, analisis sentimen positif dan negatif yang mampu mendengar trending topic pada sebuah kota.

“Hingga saat ini, chatbot dari Botika juga terus mengembangkan teknologi perbendaharaan kata yang mampu bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia Slang, bahasa Jawa dan bahasa daerah-daerah di Indonesia lainnya,” tambah Ditto ditanya soal prospek peningkatan fasilitas teknologi chatbot yang akan disasar oleh Botika.

Ia menjelaskan bahwa sebagai negara yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, Botika sebagai pionir chatbot bahasa Indonesia, harus mampu diakses
oleh berbagai kalangan dan masyarakat di berbagai daerah.

Berawal dari menjajaki chatbot untuk industri travel, Botika yang telah berdiri sejak September 2016 ini telah memenangkan lebih dari 15 kompetisi startup dan terhubung dengan lebih dari 100 perusahaan di tingkat Nasional & Internasional, untuk membantu memudahkan proses komunikasi antar perusahaan dengan pelanggan secara cepat dan lebih efisien.