Botika Luncurkan Smart Speaker yang Bisa Berbahasa Indonesia

CEO & Founder Botika, Ditto Anindita tengah memaparkan kelebihan dari Widya Wicara yang di tampilkan pada AI Summit, Nusa Dua, Bali (22/8/2019). - Ist/ Dok I Wayan Sugiana
26 Agustus 2019 13:57 WIB MediaDigital Tekno Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Setelah berfokus ke pengembangan chatbot dengan teknologi AI dan NLP Bahasa Indonesia, Botika, startup asal Jogja ini tengah bergerak maju hingga akhir tahun 2019 untuk mengembangkan teknologi voice + chatbot yang dihadirkan dalam perangkat keras, yakni smart speaker.

Smart speaker yang diperkenalkan oleh Ditto Anindita, CEO & Founder Botka di depan 1000 audiens dari Indonesia Artificial Intelligence (AI) Summit 2019 di Hotel Hilton, Nusa Dua, Bali (21-22/8/2019) diperkenalkan dengan nama Widya Wicara.

“Dibandingkan dengan smart speaker lain yang telah dibuat oleh berbagai perusahaan AI di tingkat global, Botika menghadirkan smart speaker dengan kelebihan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia,” ujar Ditto.

Sebagai pionir dari perusahaan kecerdasan buatan atau populer disebut sebagai Artificial Intelligence (AI) asal Indonesia, Botika memulai pengembangan yang agresif pada teknologi AI.

“Kami ingin menghadirkan Widya Wicara sebagai smart speaker yang mampu menjadi terobosan teknologi AI bagi masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Widya Wicara yang dihadirkan oleh Ditto saat ini tengah dikembangkan dari beta version, menjadi versi yang siap untuk diluncurkan di pasaran. Menurutnya, momen untuk mengenalkan Widya Wicara pada AI Summit 2019 juga menjadi momen yang tepat untuk unjuk gigi mengenai langkah terbaru dari kecerdasan buatan karya anak bangsa.

Saat ini, Widya memiliki beragam fitur seperti mencatat notulen rapat dan mengirimkannya melalui e-mail, membeli tiket pesawat, melakukan belanja dan kedepannya mampu terkoneksi dengan smart living yang dapat terintegrasi dengan smart home.

“Teknologi kecerdasan buatan pada Widya dan berbagai produk AI yang kami buat, bertujuan untuk menyederhanakan sesuatu. Kami harus mampu melihat bagaimana teknologi secanggih ini dapat diaplikasikan di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia,” jelas Ditto.

Ia juga menambahkan bahwa penerapan teknologi AI di Indonesia harus dimulai dari menjawab masalah-masalah umum. “Tidak bisa berbicara sesuatu yang advanced jika tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah mikro di kehidupan masyarakat Indonesia,” tutupnya.

Berbagai solusi Botika, hingga kini telah diaplikasikan untuk beragam sektor bisnis. Seperti chatbot untuk consumer goods, SDM perusahaan, telekomunikasi, transportasi hingga chatbot untuk event dan promosi. Tahun ini, bahkan Botika telah merambah bidang chatbot yang terspesialisasi kepada layanan kesehatan, dengan sub produk Medis. AI yang mana kedepannya akan memudahkan sistem manajemen dari rumah-rumah sakit di Indonesia.

Selain Medis.AI, beragam produk dari pengembangan chatbot dan teknologi kecerdasan buatan menjadi fokus dari Botika. Seperti aplikasi chatbot untuk Online Shop yang telah hadir di Google Playstore, yakni Chatbotika. Lalu solusi integrasi berbagai media sosial seperti OmniBot.

Botika juga telah melakukan ekspansi teknologi kecerdasan buatan untuk program Kota Pintar (Smart City), dengan kehadiran sub produknya yakni Pulse, analisis sentimen positif dan negatif yang mampu mendengar trending topic pada sebuah kota.