Wow, Teknologi Ini Bisa Bikin Pakaian Tak Basah meski Diguyur Air

Iradiator Gamma yang digunakan untuk berbagai penelitian salah satunya pengembangan material hidrofobik. - Harian Jogja/Sunartono.
01 September 2019 11:57 WIB Sunartono Tekno Share :

Harianjogja.com, JOGJATeknologi nuklir untuk tujuan damai sebenarnya memberikan manfaat besar bagi manusia. Berbagai produk seperti makanan bisa diawetkan melalui pemanfaatan radiasi nuklir. Selain itu, bisa dikembangkan untuk memproduksi pakaian yang tidak bisa basah meski pun terkena air.

Teknologi ini menggunakan alat yang disebut dengan Iradiator Gamma melalui pengembangan material hidrofobik atau tidak suka air berfungsi sebagai penyerap air. Alat ini hanya dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dan bisa ditemukan di Kawasan Nuklir Serpong, Kawasan Nuklir Pasar Jumat dan Kawasan Nuklir Babasari, Yogyakarta tepatnya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN).

Bedanya, jika  Iradiator di Serpong memiliki kapasitas 300.000 kilo currie (kCi) dan Pasar Jumat 60.000 kCi sehingga memiliki kemampuan kerja lebih besar, sedangkan iradiator di Jogja dengan kekuatan lebih kecil hanya 12.000 kCi karena untuk kepentingan penelitian.

Kepala Laboratorium Iradiator STTN Yogyakarta Sugili Putra mengatakan, iradiator milik Batan yang berada di Jogja memang memiliki kapasitas kecil karena untuk penelitian. Salah satu pengembangan material melalui pemanfaatan radiasi tersebut yaitu untuk penyerap atau absorber. Material ini bisa digunakan untuk pengembangan pakaian anti air atau dikenal dengan hidrofobik.

“Bisa untuk mengembangkan material seperti untuk penyerap atau absorber, yang kemarin diteliti itu untuk material hidrofobik atau tidak suka air, sehingga kalau terkena air, nanti airnya tidak menempel. Kalau sudah maju [teknologi berkembang] bisa untuk pengembangan baju [pakaian], jadi untuk lari-lari saat hujan jadi tidak basah ,” katanya Jumat (30/8/2019).

Teknologi tersebut saat ini masih dalam tahap penelitian, namun ia memastikan hal itu bisa dilakukan. Gili mengatakan, langkah itu bisa dilakukan dengan meradiasi material tersebut dengan memasukkan ke dalam iradiator gamma yang dikemas dalam sebuah tabung kecial terbuat dari stainless.

“Kalau untuk baju, material tadi itu dimasukkan, ketika belum dimasukkan [diradiasi] dia [material] sifatnya belum hidrofobik, tetapi ketika sudah diradiasi berubah menjadi hidrofobik [tidak suka air],” ujarnya.

Sehingga tidak perlu memasukkan kain untuk diradiasi, melainkan cukup dengan mencampurkan material hidrofobik atau yang sudah diradiasi tersebut pada kain sebagai bahan dari pakaian. Hanya saja, untuk keperluan industri yang lebih besar, teknologi ini belum bisa dilayani di iradiator Jogja karena kapasitasnya kecil atau masih kategori 1.

“Kalau material hidrofobik tadi sudah didapatkan baru dicampurkan pada kain atau dicampurkan saat pembuatan kain,” katanya.

 Iradiator ini tidak sembarang petugas diberi kewenenangan mengoperasikan. Di STTN hanya ada dua orang yang memiliki lisensi untuk memegang kunci iradiator, salah satunya adalah Sugili. Kunci tersebut dipakai untuk menghidupkan panel yang terpasang di dinding yang berjarak sekitar 1,5 meter dengan alat untuk meradiasi.

Panel itu berfungsi untuk mengoperasikan iradiator yang berbentuk kerucut itu, mulai dari mengatur suhu, melihat pengaturan waktu radiasi, membuka penutup iradiator, memasukkan material yang akan diradiasi hingga keluar menjadi material yang siap dimanfaatkan.

Alat buatan Hongaria ini dilengkapi dengan panel sensor gerak yang berfungsi ketika terjadi getaran gempa maka iradiator secara otomatis akan mati atau berhenti beroperasi. Karena pemanfaatan radiasi dalam skala kecil, sehingga masih diperbolehkan orang masuk ke dalam ruangan meski pun jumlahnya dibatasi.

“Alat ini juga kami gunakan untuk meradiasi pucuk sejumlah tanaman, yang tujuannya untuk menghasilkan tanaman yang zat aktifnya bisa dipakai sebagai bahan obat malaria dan kanker,” ucapnya.