Nokia Korbankan Harga Produk 5G karena Saham Merosot

Nokia 7.1 - JIBI/Bisnis.com
24 Oktober 2019 20:57 WIB Nirmala Aninda Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Saham Nokia Oyj menderita penurunan paling dalam sejak 1991 setelah perusahaan asal Finlandia tersebut memangkas proyeksi pendapatan dan memutuskan tindak membagi dividen tahun ini.

Pernyataan dari perusahaan mengatakan bahwa pengeluaran yang selama ini dilakukan untuk menaklukan rival mereka justru telah menghambat pertumbuhan pendapatan dari operasional jaringan seluler 5G.

Vendor alat elektronik tersebut terpaksa menurunkan proyeksi pendapatan dan margin untuk tahun ini dan berikutnya, mereka juga mengatakan tidak akan membagikan dividen untuk kuartal ketiga dan keempat tahun fiskal 2018.

Nokia memperkirakan bahwa pemulihan pendapatan tidak akan terjadi setidaknya sampai dengan 2021. Saham Nokia turun sebesar 24% pada sesi pembukaan di Helsinki.

Merujuk pada persaingan harga dan biaya produk yang tinggi, CEO Nokia Oyj Rajeev Suri mengungkapkan bahwa beberapa risiko yang disampaikan sebelumnya terkait dengan fase awal 5G, sekarang menjadi kenyataan.

"Kami berharap bahwa kami akan dapat mengurangi masalah ini secara progresif selama beberapa tahun depan,” kata Suri, dikutip melalui Bloomberg, Kamis (24/10/2019).

Nokia sekarang akan menghabiskan lebih banyak dana untuk mengembangkan produk 5G dan membuatnya lebih murah.

Penghasilan per saham yang disesuaikan (earnings per share/EPS) Nokia untuk 2019 diproyeksikan pada kisaran 0,18 euro-0,24 euro, turun dari kisaran awal sebesar 0,25 euro-0,29 euro.

Daniel Djurbeg, seorang analis di Handelsbanken, Stockholm, menyebut revisi untuk proyeksi 2019 menggambarkan beban perusahaan dan mengindikasikan penurunan yang lebih dramatis pada 2020.

Nokia memangkas proyeksi EPS untuk tahun depan menjadi pada kisaran 0,20 euro-0,30 euro, dari 0,37 euro-0,42 euro.

Penurunan pada prospek ini sebelumnya sudah diperkirakan oleh sejumlah analis, tapi ukuran penurunannya cukup membuat investor terkejut.

Sebelum pembaruan data kuartal ketiga, secara rata-rata para analis memperkirakan bahwa Nokia akan membukukan EPS yang disesuaikan sebesar 0,23 euro pada 2019.

Data kuartal ketiga terbukti mengalahkan ekspektasi analis untuk periode di mana perusahaan diperkirakan mengalami pelemahan.

PERSAINGAN DI JARINGAN 5G

Suri mengungkapkan bahwa persaingan harga sangat sulit di China serta adanya ketidakpastian di pasar terkait dengan merger operator telepon di Amerika Utara, mengutip rencana merger antara Sprint Corp dan T-Mobile US Inc.

Jika dua operator AS mendapatkan izin untuk bergabung, permintaan untuk peralatan 5G akan menjadi semakin terbatas, dengan asumsi mereka dapat memperoleh manfaat dari jaringan yang akan ikut tergabung.

Nokia merasakan tekanan dari saingannya Ericsson AB dan Huawei Technologies Co., yang berlomba-lomba untuk mendominasi pasar jaringan seluler.

Ericsson belum lama ini bersedia untuk mengambil kontrak yang kurang menguntungkan untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar dari para pesaingnya.

Sejumlah operator telepon sedang meninjau ulang keterlibatan bisnis mereka dengan Huawei di tengah kekhawatiran beberapa pemerintah terkait keamanan nasional.

Di sisi lain, Nokia justru dihadapi dengan tekanan untuk mengalokasikan anggaran belanja yang lebih tinggi untuk bersaing dengan Ericsson yang berpusat di Swedia.

"Kami memang memiliki masalah yang berkaitan dengan biaya produk yang lebih tinggi, yang tidak terlalu mengejutkan pada tahap awal ini dalam siklus radio 5G yang baru," kata Suri.

Menurutnya, biaya tersebut akan turun secara signifikan ketika skala meningkat dan optimasi biaya operasi mulai efektif.

Bisnis jaringan Ericsson telah mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir karena perusahaan telah meningkatkan pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan 5G sementara pada saat yang sama berusaha mengendalikan biaya lainnya.

Menyusul pengumuman ini, tampaknya Nokia akan mengikuti jejak saingan beratnya, sambil berharap bahwa penawaran produk end-to-end yang lebih luas akan memikat lebih banyak pelanggan teknologi jaringan.

"Meskipun saya tidak sepenuhnya puas dengan kinerja kami saat ini, saya yakin bahwa strategi kami sudah benar," ungkap Suri.

Nokia mengatakan pihaknya berencana untuk melanjutkan pembagian dividen ketika posisi kas bersihnya telah meningkat menjadi sekitar 2 miliar euro. Perusahaan mengharapkan kas bersih mencapai sekitar 1,5 miliar euro pada akhir 2019.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia