Acara Ini Menyuguhkan Kecanggihan Teknologi Siber dari Berbagai Negara

Ilustrasi pembayaran menggunakan barcode di ponsel pintar - Wikimedia Common
08 November 2019 11:57 WIB Dewi Andriani Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Seiring dengan bertumbuhnya kelas menengah dan penetrasi internet yang tinggi, finansial teknologi (Fintech) menjadi salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia. 

Industri ini menawarkan beragam jenis jasa keuangan antara lain jasa peminjaman, pendanaan, pembayaran dan manajemen investasi.  

Salah satu isu yang cukup krusial dalam fintech adalah persoalan perlindungan keamanan data pribadi. Pemerintah sendiri pun saat ini memberi perhatian lebih dalam hal cyber security.

Untuk membahas lebih jauh mengenai dua tema besar tersebut, Tarsus Indonesia menggelar dua pameran sekaligus dalam waktu bersamaan. Yaitu Indonesia Fintech Show 2019 dengan menggandeng Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) dan Cyber Security Indonesia dengan menggandeng Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Acara dilaksanakan pada pada 6 – 8 November 2019 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center. Didukung penuh oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia (Menko Polhukam), Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Menhan), dan Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim POLRI).

Terdapat lebih dari 100 perusahaan yang ikut, baik dalam maupun luar negeri yang bergerak di bidang industri keamanan siber dan finansial teknologi. Para peserta berasal dari delapan negara yaitu Indonesia, Singapura, Polandia, Hungaria, Amerika, Russia, Inggris dan Korea.

Niekke W Budiman, Product Director Tarsus Indonesia mengatakan, dalam pameran ini peserta akan menunjukkan beragam perkembangan industri dan teknologi terkini dari keamanan siber dan Fintech. 

"Kami berharap acara ini mampu menjadi solusi tepat bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan segala kebutuhan keamanan siber dan jasa layanan keuangan berbasis teknologi," ujarnya, dalam siaran pers, Kamis (7/11/2019).

Dia optimistis kegiatan ini mampu menarik lebih dari 5.000 pengunjung maupun peserta conference yang berasal dari masyarakat luas dan pelaku usaha.

Mirza Fachys, Wakil Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu target utama serangan siber. Karena itu, pihaknya berharap acara ini dapat menjadi platform yang tepat bagi para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun pelaku usaha.

"Kita harus bersama–sama menjawab masalah terpenting dengan prioritas regulasi dalam menjaga integritas keamanan data dan informasi di tanah air serta membuka wawasan akan pentingnya manajemen keamanan siber," tuturnya.

Sumber : bisnis.com