Begini Persaingan Sengit Alibaba, Tencent, Baidu, dan ByteDance

Maskot penguin QQ milik Tencent Holdings Ltd. didirikan di Shenzhen. China berencana menjadikan Shenzhen sebagai kota penuh dengan inovasi sains dan teknologi. Qilai Shen - Bloomberg
03 Januari 2020 23:07 WIB Ahmad Rifai Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – China banyak melahirkan perusahaan rintisan berbasis teknologi yang luar biasa. Alibaba, Baidu, Tencent, hingga ke generasi teranyarnya ByteDance, terus melesat. Hubungan antara ByteDance dengan Alibaba, Baidu, dan Tencent cenderung ke arah persaingan keras nan panas.

Teranyar, saat ByteDance merilis aplikasi pesan berbasis video bernama Doushan pada 16 Januari 2019, Tencent lewat WeChat malah memblokir tautan unduhan aplikasi yang mirip dengan Snapchat tersebut.

Sebelumnya, Tiktok versi China, Douyin, juga mendapatkan perlakuan yang sama dari Tencent. Padahal, ByteDance mengaku bukan saingan dari WeChat.

Berbeda kasus dengan Tencent, ByteDance cenderung bersaing dengan Alibaba, terutama setelah Alibaba berinvestasi US$100 juta ke Vmate.

Vmate adalah aplikasi media sosial yang menampilkan konten video pendek di India yang dimiliki anak usaha Alibaba, UC Web. Artinya, ByteDance yang memiliki Tiktok akan bersaing dengan Alibaba untuk memperebutkan 120 juta potensi pengguna di India.  

Persaingan antara ByteDance dengan senior-seniornya makin panas setelah meluncurkan Toutiao Search pada 11 Agustus 2019. Toutiao Search dinilai bakal menjadi pesaing Baidu yang merupakan mesin pencari di China sejak 2010. Bahkan, Baidu mampu menggeser Google dari pasar China karena menolak patuh dengan kebijakan penyensoran pada hasil pencarian.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia