Facebook Tak Berencana Buka Blokir Akun Donald Trump

Presiden AS Donald Trump melepas masker saat keluar di balkon Gedung Putih untuk berbicara dengan para pendukung yang berkumpul di South Lawn untuk kampanye yang disebut Gedung Putih sebagai "protes damai' di Washington, AS, (10/10/2020). - Antara/Reuters
12 Januari 2021 22:37 WIB Reni Lestari Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kepala Operasi Facebook Sheryl Sandberg mengatakan jaringan sosial terbesar di dunia itu tidak berencana mencabut pemblokiran akun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Sandberg mengatakan Facebook senang dapat membekukan akun Trump yang menyerukan klaim kecurangan pemilu di tengah kerusuhan di Washington pekan lalu.

Beberapa jam kemudian, perusahaan tersebut melarang penggunaan frasa "stop the steal" sama sekali, karena diduga terkait upaya mengatur perebutan hasil pemilihan presiden AS yang memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan.

"Ini menunjukkan presiden tidak di atas kebijakan yang kami miliki," kata Sandberg, dilansir Channel News Asia, Selasa (12/1/2021).

Para eksekutif Facebook telah lama melakukan sensor ringan terhadap postingan para politisi dengan alasan bahwa orang memiliki hak untuk melihat pernyataan dari para pemimpin mereka.

Belakangan ini, Facebook sedikit mengubah kebijakan itu dan mulai menerapkan label pada postingan presiden setelah menghadapi serangan balik musim panas ini. Hal itu termasuk boikot pengiklan ketika perusahaan menolak untuk bertindak melawan retorika seputar protes anti-rasisme di seluruh Amerika Serikat.

Kemudian Facebook berbalik arah dan melarang Trump tanpa batas waktu setelah kerusuhan minggu lalu, yang memuncak dengan penyerbuan Capitol AS.

Retorika kekerasan di platform media sosial termasuk Facebook telah meningkat dalam beberapa minggu sebelum aksi unjuk rasa ketika kelompok-kelompok berencana secara terbuka untuk pertemuan tersebut. Hal itu memicu kritik terhadap perusahaan karena gagal mengambil tindakan yang lebih agresif sebelumnya.

Sandberg mengakui bahwa Facebook mungkin telah melewatkan beberapa postingan itu, tetapi dia yakin upaya tersebut sebagian besar diselenggarakan di platform lain.

Dia mengatakan perusahaan sedang mengawasi kemungkinan protes bersenjata lebih lanjut yang direncanakan untuk Washington, DC dan di semua 50 ibu kota negara bagian AS menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari, yang telah memicu peringatan FBI.

Ditanya mengapa Facebook tidak mengambil tindakan serupa terhadap para pemimpin lain seperti Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan Presiden Rodrigo Duterte di Filipina, yang juga dituduh menghasut kekerasan online, Sandberg mengatakan kebijakan perusahaan akan berlaku secara global.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia