Heboh Kebocoran Data 530 Juta Pengguna, Ini Respons Facebook

Stiker dengan logo Facebook terlihat dalam konferensi F8 yang digelar Facebook di San Jose, California, AS, Selasa (30/4/2019). - Reuters/Stephen Lam
07 April 2021 09:47 WIB Hadijah Alaydrus Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Facebook pada Selasa (6/4/2021) mengatakan kebocoran data yang memengaruhi 530 juta pengguna pada September 2019 berasal dari penyalahgunaan fungsi importir kontaknya.

Facebook mengaku telah menutup lubang setelah mengidentifikasi masalah pada saat itu. Business Insider, minggu lalu, memberitakan bahwa nomor telepon dan detail lainnya dari profil pengguna Facebook beredar di database publik.

Facebook mengatakan pelaku yang meretas data tersebut telah mencuri sebelum September 2019 dengan "mengorek" profil menggunakan kerentanan di alat jaringan untuk menyinkronkan kontak.

BACA JUGA : Kebocoran Data Facebook, BSSN: Jaga Data Pelanggan

Dikutip dari Channel News Asia, perusahaan mengatakan telah mengidentifikasi masalah pada saat itu dan telah memodifikasi alat tersebut. "Sebagai hasil dari tindakan yang kami ambil, kami yakin bahwa masalah khusus yang memungkinkan mereka untuk menghapus data ini pada tahun 2019 sudah tidak ada lagi," kata Facebook dalam sebuah posting blog.

Pengamat keamanan siber dari Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan kebocoran data di Facebook bukan pertama kalinya terjadi, di mana platform milik Mark Zuckerberg sempat mengalami kebocoran 87 juta data pengguna pada 2018.

Adapun, Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat mendenda perusahaan tersebut sebesar US$5 miliar lantaran perusahaan dinilai lalai dalam mengelola data personal penggunanya. Bahkan, pada 2019 terdapat 267 juta data pengguna Facebook yang bocor di internet. Data itu memuat nama, ID, dan nomor ponsel.

BACA JUGA : Kebocoran Data Masih Jadi PR yang Belum Tuntas

“Para pengguna Facebook harus berasumsi bahwa semua data yang mereka berikan sudah menjadi konsumsi publik, baik ada atau tidak adanya kebocoran data. Jadi, hindari membuat password dengan data tanggal lahir diri, tanggal lahir anak, istri atau sejenisnya,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (5/4/2021).

Dia melanjutkan, pengguna untuk tidak merasa selalu aman dan mengaktifkan perlindungan Two Factor Authentication (TFA) untuk semua akun media sosial termasuk Facebook, Twitter dan lainnya. Pasalnya, serangan siber tidak akan pernah berhenti.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia