Benarkah Knalpot Pesawat Keluarkan Jejak Kimia Berbahaya? Ini Penjelasan TNI AU

Pesawat mengeluarkan asap menyerupai awan. - Ist/ twitter @_TNIAU
19 Juli 2021 21:47 WIB Nina Atmasari Tekno Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pernahkah kamu melihat pesawat yang sedang terbang di udara, mengeluarkan asap yang menyerupai awan panjang di udara? Beredar postingan yang menyebutkan bahwa asap tersebut merupakan chemtrail/chemical trail” atau jejak kimia yang disebar melalui udara. Namun, TNI Angkatan Udara (AU) membantahnya.

Penjelasan itu dipaparkan TNI AU melalui akun twitter resminya, @_TNIAU. Berawal dari postingan akun yang tidak disebutkan sumbernya itu, admin TNI AU kemudian menjelaskan tentang ilmu Fisika ini, pada Senin (19/7/2021) siang.

Paparan ini berawal dari postingan di sebuah akun yang narasinya menyampaikan bahwa “awan” dari knalpot pesawat merupakan “chemtrail/chemical trail” atau jejak kimia yang disebar melalui udara, saling silang dari dua kota yang koordinatnya sudah ditentukan.

Menurut TNI AU, unggahan tersebut adalah hoaks. "Sejujurnya airmin agak #Ngenes, #NgelusDada saking terniatnya mereka menyebar hoax, apalagi dikaitkan dengan pandemi dan PPKM darurat, seolah-olah ini adalah bahan kimia yang disebar agar penduduk suatu wilayah terjangkit penyakit semua. Tapi itu semua adalah BOHONG," tulis akun @_TNIAU.

TNI AU menjelaskan tentang jejak asap yang saling silang yang terlihat di udara. Di udara, ada “jalan” yang digunakan sebagai rute penerbangan. Sama halnya seperti jalan raya, ada persimpangan, makanya bisa terlihat saling silang dengan alat berbeda.

Adapun terkait awan yang terbentuk dari knalpot di pesawat, kondisi ini serupa saat kita berada di pegunungan. Pada malam atau pagi hari dimana udara cukup dingin, biasanya saat kita bernafas atau bicara, mulut kita mengeluarkan asap.

"karena udara yang keluar dari mulut suhunya hangat, sedangkan udara luar di sekitar kita dingin, sehingga terjadi proses kondensasi yg menghasilkan kabut udara. Hal ini juga terjadi pada mesin pesawat yang mengeluarkan udara panas… ," tulisnya.

Kemudian terperangkap udara yang sangat dingin, maka akan terbentuk awan akibat proses kondensasi. Sebagai gambaran, suhu udara pada alt 15.000 kaki udara 0 derajat, setiap naik 2.000 kaki suhunya turun 1 derajat. Sehingga pada alt 35.000 kaki suhu udaranya -10 derajat.

"Nah, suhu udara yang keluar melalui exhaust pesawat itu setidaknya mendekati 100 derajat celcius, apalagi pesawat tempur yang menggunakan afterburner, pasti lebih (kalau ga percaya silakan ukur sendiri). Bayangkan udara yang sangat panas tiba-tiba terperangkap suhu -10 derajat," lanjut TNI AU.

Hal ini akan mengakibatkan terjadinya proses kondensasi dadakan yang nantinya akan membentuk awan sepanjang rute pesawat tersebut. Semakin ekstrim suhu sekitar (misal di negara yang sedang musim dingin), semakin tebal jejak awan yang terbentuk.

Jejak awan pada pesawat ini biasanya terlihat pada sore hari di langit yang cerah, dimana matahari sudah mulai tenggelam dan suhu semakin dingin. Bisa juga terjadi pada pagi maupun siang hari. Pesawat-pesawat dari maskapai juga hampir semua terbangnya di atas 30.000 kaki.

Bukan Chemtrail

Selanjutnya, TNI AU menjelaskan terkait Chemtrail atau chemical trail, yang merupakan jejak kimia yang disebutkan bahwa disebarkan melalui pesawat udara dengan berbagai macam tujuan, salah satunya menyebarkan bahan kimia agar suatu populasi terjangkit penyakit.

"Dulu, di kancah peperangan, beberapa pihak kabarnya menyebarkan senjata biologi, dengan tujuan menyebarkan wabah penyakit pada suatu daerah. Hal ini kemudian dilarang oleh PBB. Selain itu, jika dilakukan, sasarannya tdk pilih-pilih, melainkan semua yang ada di bawahnya," tulisnya.

Sebelumnya, TNI AU menjelaskan lebih dahulu tentang “chemical” atau bahan kimia itu. Semua benda mati pada dasarnya merupakan bahan kimia, seperti udara, air, besi, alumunium, dll yang memiliki unsur senyawa kimia.

Penggunaan bahan kimia dalam penerbangan pun sangat beragam, seperti pemadaman kebakaran, hujan buatan, penyemprotan hama tanaman dan pertunjukkan aerobatik. "Dan hal ini dilakukan pada altitude yang rendah, bukan pada altitude yang tinggi karena efeknya akan hilang tersapu angin," jelas TNI AU.

Nah, dari penjelasan ini, TNI AU berharap warganet dalam menelaah suatu berita agar tidak mudah terbawa arus disinformasi yang kadangkala sengaja disebarkan untuk membuat kekacauan.