E-sports Diusulkan Masuk ke Kurikulum SMP dan SMA, Begini Respons Kemendikbud

Suasana babak Grand Final Piala Presiden Esports 2019 yang berlangsung di Istora Senayan pada Minggu (31/3/2019). - Bisnis/Rahmad Fauzan
27 November 2021 14:17 WIB Restu Wahyuning Asih Tekno Share :

Harianjogja.com, SOLO - Pengurus Besar E-sport Indonesia (PBESI) memiliki keinginan untuk menjadikan e-sport di kurikulum sekolah. Nantinya, e-sport akan masuk ke kegiatan ekstrakulikuler sekolah di jenjang SMP, SMA dan SMK.

Ketua Bidang Humas dan Komunikasi PBESI, Ashadi Ang dalam diskusi virtual bertajuk "Membangun Jenjang Karir Atlet Esports & Prestasi Bangsa" mengatakan, e-sports di jenjang pendidikan bisa digunakan sebagai wadah pengembangan potensi.

Tak hanya itu, pemberian materi dasar sebagai pondasi edukasi tentang dunia e-sports, dapat dilakukan agar siswa memiliki pola pikir yang benar.

BACA JUGA : Kembangkan Ekosistem eSport, IndiHome Gelar Roadshow

"Kami ingin memberikan sebuah edukasi sejak dini ketika mereka di bangku SMP, SMA, SMK. Artinya, ketika kita bicara e-sports, ini ekosistemnya sebesar ini, peluangnya sebesar ini, serta pondasi-pondasi apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan supaya menjadi atlet sukses," kata Ashadi pada Kamis (25/11/2021), dikutip dari Antara.

Menurut Ashadi, komponen dalam e-sport sangatlah luas. Bukan hanya pemain profesional, namun ada juga caster atau komentator.

Keinginan PBESI ini akan disampaikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), sebelum akhirnya bisa terlaksana.

Penjelasan Kemendikbud

Di sisi lain, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nino Aditomo mengatakan bahwa klaim e-sports akan dijadikan kurikulum belum memiliki izin.

Meskipun sebelumnya, Kemendikbud tengah merancang kurikulum baru yang disebutkan oleh Mendikbud pada Hari Guru Nasional. Kurikulum yang dimaksudkan yakni kurikulum yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

"Agar menghasilkan kurikulum yang fleksibel, kami mengikuti prinsip desain less is more. Prinsipnya, kerangka kurikulum yang kami buat seharusnya hanya mengunci hal-hal yang esensial. Tujuannya adalah memberi ruang yang besar bagi sekolah untuk merancang kurikulumnya sendiri," tulis Nino Aditomo di akun Twitternya, @ninoaditomo, pada Jumat (26/11/2021).

Kemendikbud, lanjut Nino, bakal lebih mengedepankan kecakapan nalar kritis. "Dan salah satu kecakapan tersebut adalah nalar kritis. Ini mencakup kemampuan mencari, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dan gagasan. Juga kemampuan metakognitif untuk merefleksikan, mengevaluasi, dan merevisi pemikirannya sendiri," lanjut Nino.

Sehingga yang terpenting adalah, menurutnya, pemberian literasi yang lebih dari e-sports.

BACA JUGA : Berebut Rp50 Juta, Ratusan Gamers Bertanding Mobile

Kerangka kurikulum yang ingin dirubah oleh Kemendikbud adalah sekolah mampu mengembangkan materi dan metode pembelajarannya.

E-sports pun bisa masuk sebagai konten pengembangan kurikulum sekolah, namun yang terpenting adalah pemberian materi untuk nalar kritis.

"Konten spesifik seperti e-sports bisa saja digunakan oleh sekolah sebagai bagian dari kurikulum mereka. Yang penting adalah materi tersebut digunakan untuk mengembangkan kecapakan esensial seperti nalar kritis, kreativitas, dan gotong royong,"

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia