Ancaman Serangan Digital di Balik Harbolnas, Ini Metodenya

Konsumen memilih produk di salah satu situs berjualan online saat program 12.12 di Kerten, Laweyan, Solo, Rabu (12/12). Sejumlah situs berjualan online menawarkan beragam menarik seperti diskon, gratis biaya pengiriman, dan flash sale untuk memeriahkan Hari Belanja Online Nasional. - JIBI/M. Ferri Setiawan
10 Desember 2021 03:37 WIB Akbar Evandio Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perusahaan intelijen risiko seluler, Shield, menyebut perayaan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) tidak hanya menjadi kesempatan konsumen Indonesia dalam mendapatkan penawaran terbaik, tetapi juga menjadi peluang bagi penipu yang menargetkan toko-toko ritel daring.

Pendiri dan CEO Shield Justin Lie mengatakan, ketika aplikasi selular e-commerce semakin menjadi pilihan utama bagi konsumen Indonesia dalam berbelanja, maka keamanannya harus menjadi prioritas utama bagi toko-toko daring tersebut.

“Tingkat penetrasi internet selular yang tinggi, meningkatnya jumlah opsi pembayaran digital, dan kemajuan pada infrastruktur teknologi telah menjadikan Indonesia salah satu pasar aplikasi selular dengan pertumbuhan tercepat di dunia," ujarnya lewat keterangan tertulis, Kamis (9/12/2021)

Dia memerinci, terdapat tiga serangan penipuan paling umum yang harus diwaspadai oleh para penyedia aplikasi dagang elektronik (e-commerce). Pertama adalah scalping, yaitu proses menggunakan bot untuk membeli produk yang sedang popular atau diskon secepat mungkin dan kemudian menjualnya kembali dengan harga yang telah dinaikkan dari harga semula.

Kedua, penipuan promosi, di mana kode promo dan voucer adalah sesuatu yang sangat umum diberikan selama Harbolnas berlangsung. Penggunaan kode promo dan voucher adalah cara yang bagus untuk menarik pelanggan baru dan membuat pelanggan lama tetap kembali.

Namun, ternyata kode promo dan voucher juga menarik penipu untuk membuat akun palsu dan menggunakan kode promo yang sama berulang kali.

Ketiga, serangan pengambilalihan akun (Account Takeovers) dengan cara para penipu berbaur menjadi satu dengan pembeli yang sah dan meluncurkan serangan-serangan pengambilalihan akun aplikasi e-commerce selama waktu traffic yang sedang ramai-ramainya.

Meskipun bisnis e-commerce cenderung berfokus pada serangan terkait pembayaran, toko-toko online harus menyadari cara lain yang dapat dilakukan oleh penipu untuk menyerang sistem mereka.

Dengan banyaknya jumlah pembelanjaan yang terjadi menggunakan smartphone, toko-toko online harus memberi perhatian khusus pada aktivitas-aktivitas berbahaya yang dapat terjadi di aplikasi-aplikasi selular mereka.

Aplikasi-aplikasi selular memerlukan berbagai jenis solusi dan strategi pencegahan penipuan. Pendekatan mobile-first untuk mencegah penipuan dan penyalahgunaan data sangat diperlukan agar dapat mengetahui potensi ancaman-ancaman yang akan terjadi, serta dapat melindungi pengguna.

"Jika toko-toko online tidak melakukan ini, maka perayaan Harbolnas ini mungkin akan berubah menjadi suatu mimpi buruk nantinya," ujar Justin.

Sumber : JIBI/Bisnis.com