Facebook Jadi Gudang Hoaks

Ilustrasi. - Freepik
29 Desember 2021 13:47 WIB Newswire Tekno Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melacak ada 5.311 konten hoax Covid-19 di media sosial periode 27 Desember 2021. Konten hoax terbanyak ternyata ada di Facebook. Data yang diterima menjelaskan, jumlah temuan isu hoax Covid-19 periode 23 Januari hingga 27 Desember sebanyak 2.039 dengan total sebaran 5.311 konten hoax. Dari jumlah tersebut, konten yang dibawa ke ranah hukum sebanyak 767 konten.

Lebih detailnya, terkait sebaran hoax Covid-19, paling banyak ditemukan di Facebook dengan total sebaran 4.610 konten.
Bagaimana dengan media sosial lain? Di Instagram, Kominfo temukan 49 konten hoax Covid-19, Twitter (572), Youtube (55), dan TikTok (25). Sebagai kementerian yang bertanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima masyarakat itu valid dan akurat, tindakan seperti takedown konten rutin dilakukan Kominfo. Dari total 5.311 sebaran hoax Covid-19, hampir semuanya sudah ditindak lanjuti.

"Namun, masih ada yang saat ini statusnya sedang ditindaklanjuti sebanyak 178 konten hoax Covid-19," kata Usman Kansong, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, dalam temu media di Tangerang Selatan, Rabu (29/12/2021).

Secara detail, dari total 178 konten hoax Covid-19 yang sedang ditindaklanjuti, konten di Facebook yang masih 'on progress' sebanyak 142 konten, Twitter (11), Instagram (10), Youtube (1), dan TikTok (14). Dari total 5.311 sebaran isu hoax Covid-19 yang tercatat di Kominfo, semuanya diajukan untuk dilakukan takedown.

Ini juga mengartikan bahwa masyarakat mulai aware dengan kebenaran informasi dan tidak ragu untuk menghapus informasi sesat tersebut agar tidak semakin meluas. Kominfo juga menemukan konten hoax terkait dengan vaksin Covid-19. Data per periode 27 Desember 2021 pukul 6.00 WIB, mengungkapkan bahwa Facebook juga menjadi gudang persebaran konten hoax vaksin Covid-19, dengan total sebaran 2.326. Lalu, Instagram 18 konten, Twitter (110), Youtube (43), dan TikTok (21).


"Semua sebaran konten hoax vaksin Covid-19 dipastikan sudah di-takedown," tambah Usman. Kemunculan hoax Covid-19 maupun vaksin Covid-19 ini, sambung Usman, merupakan tantangan komunikasi di masa pandemi saat ini.
"Di mana berkembangnya teknologi informatika saat ini memungkinkan setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan konten hoax," katanya.


Karena itu, peran bersama dari pemerintah, akademisi, komunitas, bisnis, dan media sangat penting untuk menghapus konten hoax terkait Covid-19 maupun vaksin Covid-19 di media sosial. Karena itu, pemerintah perlu duduk bersama dengan media untuk memberikan edukasi dan informasi yang tepat ke publik," tambah Usman