Advertisement

Jalan Terjal Mewujudkan Kendaraan Listrik di Indonesia

Lajeng Padmaratri
Senin, 22 Agustus 2022 - 19:47 WIB
Bhekti Suryani
Jalan Terjal Mewujudkan Kendaraan Listrik di Indonesia Menko Marves Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (4/6/2022). - Ist/dokumen PT PLN

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah tantangan dirasa masih jadi persoalan untuk membawa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia lebih optimal. Selain soal sumber energi, harga kendaraan listrik saat ini juga dinilai masih relatif tinggi untuk dijangkau masyarakat secara luas.

Keberadaan kendaraan listrik terus didorong oleh pemerintah Indonesia. Terutama dalam melakukan pengurangan emisi karbon, mengurangi polusi, hingga kebisingan lalu lintas di daerah yang padat penduduk.

Secara global penjualan kendaraan listrik menunjukkan pertumbuhan yang kuat, termasuk di Indonesia meski masih tergolong kecil hanya sekitar 0,5% dari penjualan mobil secara keseluruhan. Ada sejumlah hal yang menjadi tantangan untuk membawa ekosistem kendaraan listrik di Indonesia lebih optimal.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Pengamat transportasi Darmaningtyas mengungkapkan salah satu tantangan implementasi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia adalah sumber energi yang masih menggunakan energi kotor yakni batu bara.

"Bahan bakar listrik yang 63% masih dari batu bara juga membuat electric vehicle (EV) ini tidak sepenuhnya bersih lingkungan, hanya pengalihan atau penundaan polusi saja mengingat batu bara juga melahirkan limbah," kata Darmaningtyas dikutip dari Antara.

Ia mengungkapkan pihaknya mendukung penuh ekosistem kendaraan listrik di Tanah Air apabila bahan baku listrik bersumber dari energi baru terbarukan (EBT), misalnya dari pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Selain itu, menurut Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) itu, harga kendaraan listrik saat ini juga dinilai masih relatif tinggi untuk dijangkau masyarakat secara luas. Menurutnya, bila EV menguntungkan secara ekonomis, maka dengan sendirinya masyarakat akan beralih ke EV.

"Tetapi, kalau mereka belum beralih berarti belum menarik alias belum menguntungkan, baik sebagai bidang usaha produsen EV maupun sebagai konsumen," katanya.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga menyampaikan sejumlah tantangan pada kendaraan listrik, salah satunya yaitu penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang otomotif berbasis listrik.

Advertisement

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan diperlukan SDM yang mampu berkontribusi pada pencegahan kecelakaan maupun temuan yang dapat menimbulkan potensi bahaya di masa depan.

Ia menjelaskan sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai misalnya area tegangan DC tinggi (600 volt) yang dapat berakibat fatal, adanya opening atau cracking (retak isolator kabel tegangan tinggi) yang disebabkan adanya fretting (gesekan), radius yang tajam, penuaan (aging), dan terkelupas.

Kemudian, terjadinya short circuit akibat fibration kendaraan, benturan ataupun hal-hal lainnya, lingkungan tropis yang cenderung lembab, panas, berdebu sehingga dapat mengganggu fungsi-fungsi elektronik.

Advertisement

Ia menegaskan, kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle) untuk transportasi jalan harus benar-benar dipastikan memenuhi aspek keselamatan, keamanan, dan juga sehat.

"Hanya personel terlatih yang disarankan untuk menangani keadaan tersebut. Team tanggap darurat harus selalu standby selama kendaraan listrik beroperasi agar selalu dilakukan evaluasi, khususnya mengenai bahaya, kesulitan, serta mitigasi dan perbaikan SOP yang ada," katanya.

BACA JUGA: Korupsi di Kampus Negeri, KPK Keluarkan Rekomendasi Penerimaan Mahasiswa Jalur Mandiri

Terkait pemenuhan energi bersih untuk kendaraan listrik, harus ada yang menghitung total energi dan karbon dari saat batu bara ditambang dengan alat berat, sampai dengan menghasilkan listrik sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi.

Advertisement

"Itu semua harus dihitung dan dicatat, kita laporkan berapa status karbon Indonesia setelah menggunakan EV. Ini bagian yang juga penting dalam penerapan EV," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pemkot Jogja Waspadai Inflasi Melonjak di Akhir Tahun

Jogja
| Rabu, 05 Oktober 2022, 23:47 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement