Advertisement

Selama Ini Indonesia Cuma Bisa Impor Inverter, Pemuda Jogja Sukses Kembangkan Teknologinya

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 17 September 2022 - 03:17 WIB
Arief Junianto
Selama Ini Indonesia Cuma Bisa Impor Inverter, Pemuda Jogja Sukses Kembangkan Teknologinya Laskar Pamungkas saat menunjukkan desain inverter buatannya, Rabu (14/9/2022). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Seorang pemuda asal Jogja menginisiasi pengembangan teknologi inverter agar bisa diproduksi di dalam negeri. Pasalnya, selama ini kebutuhan akan komponen ini masih impor dari negara lain.

Dalam dunia teknologi, khususnya elektronika, inverter dikenal sebagai salah satu komponen terpenting dan paling kompleks dari sistem listrik independen.

Sistem tenaga listrik independen adalah sistem yang terlepas dari jaringan utilitas listrik. Sistem seperti itu memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari lampu halaman kecil hingga rumah di lokasi terpencil, desa, taman nasional, fasilitas medis, dan militer.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Komponen umum dari sistem tersebut adalah baterai penyimpanan yang menyerap dan melepaskan daya dalam bentuk arus searah (DC). Sebaliknya, jaringan utilitas menyuplai konsumen dengan daya arus bolak-balik (AC).

Inverter mengubah DC ke AC, dan juga mengubah tegangan. Dengan kata lain, ini adalah adaptor daya. Komponen ini dapat memungkinkan sistem daya independen berbasis baterai untuk menjalankan peralatan konvensional melalui kabel rumah konvensional.

Pemuda berusia 28 tahun yang bernama Laskar Pamungkas tersebut sudah punya ketertarikan terhadap pengembangan inverter sejak menempuh studi sarjana di Teknik Elektronika Fakultas Teknik UGM.

Namun, dia merasa minatnya terhadap dunia manufaktur di bidang elektronik, khususnya inverter, masih belum bisa tersalurkan.

BACA JUGA: HUT ke-18, Jogja TV Bagikan STB untuk Dukung Migrasi TV Digital

Alhasil, dia menempuh studi lanjutan ke jenjang pascasarjana di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) pada 2017. Masa studinya itu pun ia barengi dengan bekerja di salah satu perusahaan rintisan yang fokus pada energi ramah lingkungan.

Advertisement

Seusai menyelesaikan studi hingga jenjang doktoral, awal 2022, Laskar kembali ke Indonesia. Di Jogja, dia membuka kantor perwakilan dari perusahaan tempatnya bekerja di Taiwan yaitu Yiqun Green Energy Tech. Di sana, Laskar memproduksi perangkat inverter.

Menurut Laskar, inverter sudah diproduksi oleh banyak perusahaan. Akan tetapi, di Indonesia masih belum ada pabrik inverter, sehingga selama ini masih mengimpor dari luar negeri terus.

"Setelah lulus, saya kembali ke Indonesia dan ditawari oleh perusahaan saya di Taiwan untuk bikin kantor perwakilan di sini, fokusnya untuk cari market. Tetapi, saya enggak mau hanya cari pasar, saya penginnya talent lokal juga punya andil untuk mendesain produknya," kata Laskar ketika ditemui Harianjogja.com, Rabu (14/9/2022).

Advertisement

Produk

Menurutnya, perangkat ini sangat dibutuhkan karena ke depannya semakin banyak aspek kehidupan yang menggunakan daya listrik.

Dia menyayangkan negara sebesar Indonesia masih belum punya pabrik inverter. Namun, dia pun tidak heran lantaran kampus yang memiliki jurusan elektronika pun belum fokus terhadap pembelajaran manufaktur di bidang elektronika.

"Di kampus masih fokus studinya soal jasa, bukan manufaktur. Jadi saya ketika bikin perusahan ini juga susah nyari talent-nya, harus ngajarin dulu," ujar dia.

Advertisement

Lantaran belum jadi tren, saat ini Laskar merintis usaha pengembangan produk inverter dalam negerinya secara perlahan. Meski belum bisa produksi sepenuhnya di sini, tetapi sebagian prosesnya seperti desain produk inverter sudah mulai dikerjakan dari kantor perwakilan di Jogja.

Banyak Tantangan

Bagi sebagian orang, lulusan S3 identik dengan tujuan karier sebagai dosen. Namun, tidak bagi Laskar.

Advertisement

Sejak awal, dia hanya ingin menekuni suatu bidang untuk bisa merintis perusahaan manufaktur elekronika sendiri.

Dia pun mengakui ada beberapa tawaran untuk menjadi pengajar di kampus lamanya. "Tetapi karena di Indonesia itu perusahaan manufaktur masih belum ada, jadi saya merasa lebih pengin untuk mengisi kekosongan di industri saja," kata dia.

BACA JUGA: Danais Dipakai untuk Dukung Pengembangan Selatan DIY

Meski demikian, dia mengakui jika hal itu membuatnya menemui beragan tantangan. Pencarian talent yang sepenuhnya memahami untuk membantunya memproduksi inverter pun masih sulit dilakukan.

Advertisement

Di sisi lain, Laskar pun merasa belum memiliki skill di bidang pemasaran. Sebab, dia terbiasa menggeluti aspek teknis dalam riset dan pengembangan produk.

Dia menjelaskan produk yang ia tawarkan ke pasar di Indonesia yaitu integrasi antara inverter dan converter. Sehingga user bisa lebih mudah mengaplikasikannya.

Baru-baru ini, produk inverter-nya digunakan dalam peralatan pendukung budi daya ikan air tawar di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bendo, Bojonegoro, Jawa Timur.

Kegiatan itu diinisiasi dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PLN UP3 Bojonegoro.

Ke depannya, Laskar berharap semakin banyak stakeholder dalam negeri yang tertarik dengan produk yang ia tawarkan.

Di sisi lain, dia juga punya target untuk mengembangan inverternya sebagai produk retail sehingga bisa menyasar kalangan individu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

134 Orang Meninggal Dunia di Bantul Sepanjang Tahun Ini karena Kecelakaan Lalu Lintas

Bantul
| Rabu, 05 Oktober 2022, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement